Apa yang akan kita lakukan apabila kita kelaparan, tidak punya uang, kesakitan, cacat fisik, bahkan kehilangan masa depan?
Komik ini mengisahkan 5 orang dengan permasalahan mereka masing-masing, namun berhubungan satu sama lain meski tidak langsung. Background ceritanya memiliki keunikan tersendiri, yaitu di Medan. Diawali dengan kisah Yurika sang pedagang rokok asongan yang berjuang mencari nafkah agar ia dapat membeli makanan untuk dia dan adiknya. Kemudian, ada Willie yang berniat bunuh diri karena perusahaan orang tuanya yang dia pegang terlilit hutang.
Namun, ia dicegah oleh Celie, gadis ceria yang menderita medulloblastoma (kanker otak) dan menganggap hidupnya tinggal menunggu ajal. Lalu, cerita berlanjut ke keluarga diva yang tidak menganggap Cyan Euphony, anak bungsunya yang bisu sebagai anak mereka karena dianggap tabu. Lalu kisah memiliki climax pada seorang solois yang sedang naik daun, Iria, yang karirnya dihalang karena produsernya memaksa dirinya untuk menjual tubuhnya.
Bagaimana kisahnya bisa terhubung lebih lanjut? Silahkan baca lebih lanjut biar tidak penasaran.
Simple but Inspiring
Yang menjadi poin plus dalam komik ini adalah segi visualnya. Kalau dilihat, desain karakter yang khas dan latar belakangnya yang mendetail mendapat acungan jempol. Background Medan pun terlihat secara nyata. Bahkan, di beberapa selingan cerita mereka menjelaskan tempat-tempat di Medan yang menjadi latar belakang tiap cerita. Hal ini bisa meningkatkan rasa penasaran orang untuk mengenal Medan lebih jauh.
Tidak kalah dengan segi visualnya, segi ceritanya pun menarik. Kisah terpisah yang memiliki hubungan, baik secara langsung maupun tidak langsung tiap act-nya ini mengingatkan pada film tertentu (example: Love by Kabir Bhatia). Tema ‘aku ingin hidup’ ini pun termasuk langka di perkomikan modern akhir-akhir ini dan adalah suatu terobosan jika Kababonken Studio menghidupkan kembali tema ini. Inti yang mudah diserap, namun disajikan dalam kisah yang menarik.
Real in life?
Secara cerita, I Want To Live memiliki nuansa cerita yang kental dan terasa nyata. Terlihat dari awal, Yurika sang pedagang rokok mengingatkan kita pada anak-anak pedagang asongan di tengah jalan. Kemudian, sisi depresi Willie dan Celie memang secara tidak sadar telah menjadi trend, tidak hanya di Medan sebagai latar ceritanya, tetapi juga hampir di seluruh dunia. Begitu pula sisi kontroversial Iria yang marak terjadi di dunia perartisan saat ini. Mungkin yang cukup unik adalah kisah Cyan yang terasa misterius.
Namun, sangat disayangkan ketika nama-nama karakter komik ini tidak disesuaikan dengan latarnya. Nama karakter yang terasa lebih kebarat-baratan ini sebenarnya tidak terlalu sesuai dengan background Medan yang suasana ‘Indo’-nya masih kental. Seharusnya mereka menampilkan nama Indonesia yang unik sehingga cerita lebih terasa nyata. Meski pada akhirnya memang saat ini di Indonesia nama kebarat-baratan sudah mulai menjamur lebih cepat dari nama tradisional Indonesia.
Kemudian, ada peletakan kolom komik di beberapa cerita yang tidak terlalu efisien, sehingga komik terasa lambat dan ekspresinya kurang menggugah. Seharusnya peletakan gambar diefisienkan secara baik agar kisah dapat disampaikan dan terasa menarik. Kemudian, ekspresi karakter dewasa terlihat kurang kuat, terutama pada desain wanitanya.
Honor of Life
Meski begitu, komik ini mendapat acungan jempol untuk terobosan barunya di dunia komik modern Indonesia. Semoga saja kisah yang inspiratif ini dapat menumbuhkan semangat pembacanya untuk terus berjuang dalam hidup. Segera baca bukunya dan kamu akan merasakan betapa indahnya hidup ini kalau kita terus semangat!
oleh IkaG. Diedit oleh RonW.